Thursday, April 10, 2008

paradox pic

suatu hari gw lagi berselancar dan menggeber habis komputerku di dunia yang tanpa batas ini. dan entah dimana dapetnya aku sendiri lupa karena aku gak pernah menandai kemana saja aku pergi. hehehehe... ya begitu lah aku "sering tersesat di dunia maya".

saat "tersesat" itu aku memenukan gambar yang menarik hatiku, bagaiman tidak...?!
karena bila di lihat secara sepintas tak ada yang aneh dalam gambar tersebut tapi bila diamati lebih seksama akan tampak hal yang tak bisa. mungkin ini awam bagiku.

ya suatu hari aku menemukan gambar ini, gambar yang bikin ku sedikit mengerenyitkan dahi dan menjadi penasaran dengan gambar tersebut lebih jauh, karena sampai saat ini aku belum bisa memahami bagaimana cara membuat gambar seperti dibawah ini.





hehehehe....
ada yang bisa menjelaskan bagaimana cara membuatnya...??
karena aku ingin sekali membuat foto seperti itu.

thanks...!

Monday, April 07, 2008

mengobati rasa penasaran tentang Candi sukuh

minggu lalu sudah saya posting perjalanan tahun baru lalu ke candi sukuh, tapi karena rasa pensaran dan ketertarikan saya terhadap candi tersebut yang dukup eksotik, maka beberapa minggu lalu saya coba mencari jawaban terhadap rasa penasaran dan ingin tau terhadap apa dan bagaimana sebenarnya candi tersebut.

meski tidak begitu lengkap dan menyeluruh bahasan mengenai candi sukuh, apa yang saya ketahui ini dapat sedikit mengobati rasa penasaran saya.
oke langsung aja saya paparkan dibawah ini.

CANDI SUKUH

Terletak di sebelah Barat Gunung Lawu, Kabupaten Daerah Tingkat II Karanganyar, Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Bentuknya mirip punden berundak menghadap ke Barat dan memiliki pyramid yang terpangkas bagian atasnya. Candi ini bangunannya makin meninggi kearah Timur. Udara yang sejuk dan mistis menyelimuti daerah ini, sehingga menimbulkan kesan yang syahdu dan mistis yang khas di daerah yang sunyi ini. Candi Shiwais ini mungkin semacam tempat pemujaan dan pendidikan beraliran Shiwa di mana mungkin dahulunya ajaran-ajaran rahasia mengenai alam semesta dan berbagai kesaktian diturunkan. Berbagai ornamen sakral Tantrik seperti Lingga-Yoni yang digambarkan secara realistis mirip sekali dengan genital pria dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh kaum lain yang tidak memahami apa-apa, candi ini disebut candi porno, padahal pada zaman dahulu mungkin kaum awam mungkin tidak mudah masuk kedalam candi ini karena kesakralannya yang tinggi. Pihak keraton Solo yang memahami hal ini tidak banyak cerita apa-apa walaupun Sri Sultan sering berziarah ke candi-candi Gunung Lawu pada waktu-waktu tertentu. Jenis pendidikan seks dan garbha-loka yang menghasilkan penderitaan adalah tema candi sakral ini, namun sayang banyak sekali yang telah hilang dari candi ini sehingga seluruh gambaran tidak terungkap secara sempurna.

Dengan persetujuan sang penjaga juru kunci candi, maka kita bisa mengunjungi dan bersembahyang pada candi ini pada hari-hari tertentu dan bahkan pada malam hari. Ada pendopo khusus diluar candi yang dibangun oleh pemuja-pemuja yang khusus bermeditasi disini. Candi ini luar biasa untuk bersemedi (non-pamrih).

Candi ini yang dibangun pada abad XV terletak dilereng Gunung Lawu di Wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Dari permukaan air laut, ketinggiannya sekitar 910 m. Berhawa sejuk dengan panorama yang indah. Kompleks situs purbakala Candi Sukuh mudah dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, dengan jarak 27 km dari kota Karanganyar. Situs purbakala Candi Sukuh ini ditemukan oleh Residen Surakarta “Yohson” ketika masih penjajahan Inggris. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang. Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di Jawa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunanya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum. Trap I Candi Sukuh menghadap ke barat.

Seperti yang sudah diutarakan, trap pertama candi ini terdapat tangga. Bentuk gapuranya amat unik yakni tidak tegak lurus melainkan dibuat miring seperti trapezium, layaknya pylon di Mesir ( Pylon : gapura pintu masuk ke tempat suci ). Pada sisi gapura sebelah utara terdapat relief “manusia ditelan raksasa” yakni sebuah “sengkalan rumit” yang bisa dibaca “Gapura buta mangan wong “ (gapura raksasa memakan manusia ). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakternya 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Pada sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Menurut KC Vrucq, relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca : “Gapura buta anahut buntut “(gapura raksasa menggigit ekor ular ), yang bisa di baca tahun 1359 seperti tahun pada sisi utara gapura. Menaiki anak tangga dalam lorong gapura terdapat relief yang amat erotis, terpahat pada lantai. Relief ini menggambarkan phallus yang berhadapan dengan vagina yang di kelilingi oleh kalungan sperma.

Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Shiwa dengan istrinya ( Parwati ). Lingga Yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.

Boleh dikata relief tersebut berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”, yakni membersihkan segala kotoran yang melekat di hati setiap manusia. Dalam bukunya Candi Sukuh Dan Kidung Sudamala Ki Padmasuminto menerangkan bahwa relief tersebut merupakan sengkalan yang cukup rumit yaitu : “Wiwara Wiyasa Anahut Jalu “.Wiwara artinya gapura yang suci dengan karakter 9, Wiyasa diartikan daerah yang terkena “suwuk” dengan karakter 5, Anahut (mencaplok) dengan karakter 3, Jalu ( laki-laki ) berkarakter 1. Jadi bisa di temui angka tahun 1359 Saka. Tahun ini sama dengan tahun yang berada di sisi-sisi gapura masuk candi.

Trap kedua lebih tinggi daripada trap pertama dengan pelataran yang lebih luas. Gapura kedua ini sudah rusak, dijaga sepasang arca dengan wajah komis. Garapannya kasar dan kaku, mirip arca jaman pra sejarah di Pasemah. Di latar pojok belakang dapat dijumpai jejeran tiga tembok dengan pahatan-pahatan relief, yang disebut relief Pande Besi. Relief sebelah selatan menggambarkan seorang wanita terdiri di depan tungku pemanas besi, kedua tangannya memegang tangkai “ububan” ( peralatan mengisi udara pada pande besi). Barangkali maksudnya agar api tungku tetap menyala. Ini menggambarkan berbagai peristiwa sosial yang menonjol pada saat pembangunan Candi Sukuh ini. Pada bagian tengah terdapat relief yang menggambarkan Ganesya dengan tangan yang memegang ekor. Inipun salah satu sengkalan yang rumit pula yang dapat dibaca : Gajah Wiku Anahut Buntut, dapat ditemui dari sengkala ini tahun 1378 Saka atau tahun1496 M.

Relief pada sebelah utara menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki selonjor. Di depannya tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tumbak dan pisau. Trap Ketiga ini trap tertinggi yang merupakan trap paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada Candi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah jika ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapak yang terbuat dari batu (anak tangga). Jalan batu ditengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 kesatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Di sebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang semula adalah raksesi bernama Durga atau Sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang Bidadari di kayangan dengan nama Bethari Uma Sudamala maknanya adalah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil”ngruwat”. Adapun cerita Sudamala diambil dari buku kidung Sudamala. Sejumlah 5 adegan yaitu: 1. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunthi meminta pada Sadewa agar mau “ngruwat” Bethari Durga namun Sadewa menolak.

2. Relief kedua menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku “pancanaka” ke perut raksasa. 3. Relief ketiga menggambarkan ketika Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohon randu alas karena menolak keinginan “ngruwat” Sang Bethari Durga. Dan Sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar ditangannya untuk memaksa Sadewa. 4. Relief keempat menggambarkan Sadewa berhasil “ngruwat” Sang Durga. Sadewa kemudian diperintah pergi kepertapaan Prangalas, di situ Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa. 5. Relief kelima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah di “Ngruwat” Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada Sang Dewi Uma. Pada pelataran itu juga dapat ditemui soubasement dengan tinggi 85 cm, luasnya sekitar 96 m2. Ada juga obelisk yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita ikwal Garudeya merupakan cerita “ruwatan” pula. Ceritanya sebagai berikut: Garuda mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama Dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena telah kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara.

Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berwujud ular naga yang berjumlah seribu yang menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat Sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para Dewa. Demikianlah keterangan menurut kisah Adhiparwa. Pada sebelah selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang didalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula. Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa Gaib kompleks candi tersebut. Di dekat candi kecil terdapat kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar Gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta perwita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun saka 1363. Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk Pengruwatan, yakni prasasti yang diukir dipunggung relief sapi.

Sapi tersebut digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit: Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada dipunggung sapi yang artinya kurang lebih demikian: untuk diingat-ingat ketika bersujud di kahyangan (puncak gunung), terlebih dulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan disini yaitu kata: “pawitra” yang artinya pemandian suci. Karena di kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”. Tempat suci untuk pengruwatan, seperti yang sudah diutarakan, dengan bukti-bukti relief cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat dipastikan candi Sukuh pada jamannya adalah tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan.

Tetapi dengan melihat relief Lingga-yoni di gapura terdepan dan bagian atas candi induk, tentulah candi Sukuh juga sebagai lambang ucapan syukur masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan yang mereka peroleh. Sedangkan dilihat dari bentuk candi yang mirip dengan “punden berundak” tentulah candi ini merupakan tempat pemujaan roh-roh leluhur.

Bukti-bukti bahwa Candi Sukuh merupakan tempat untuk upacara Pengruwatan yakni: a. Relief Lingga-yoni di gapura pertama selain berfungsi sebagai “suwuk” juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja yang memasuki candi. b. Relief Sudamala yang menceritakan Sadewa “ngruwat” Sang Durga. c. Relief Garideya yang menggambarkan Garuda “ngruwat” ibunya yang bernama Dewi Winata. d. Prasasti tahun 1363 Saka dalam kalimat “bebajang maramati setra hanang bango”. e. Prasasti tahun 1379 Saka dipunggung lembu yakni kata “pawitra” yang berarti air suci (air untuk pengruwatan). Ikwal upacara “ngruwat” yang dipaparkan di sini sudah barang tentu berbeda dengan upacara ruwatan pada jaman sekarang yang biasanya dilakukan oleh seorang dalang sejati. Yang sering disebut dalam masyarakat jawa dalang Kandha Buwana.

Dan ada anak yang diruwatpun mempunyai “sukerta” karena posisinya dalam keluarga misalnya : anak ontang-anting, uger-uger lawang, kembang sekawan, kedhana-kedhini, sendhang kapit pancuran. Pancuran kapit sendang dan sebagainya; juga karena kebiasaan sehari-hari yang tidak kita sadari misalnya: menjatuhkan “dandang” (tanakan nasi), membuang sampah dari jendela, berjalan seorang diri diwaktu siang hari bolong, atau karena bawaan sejak lahir misalnya gondang kasih, bungkus, kalung usus; atau karena waktu kelahirannya misalnya julung serap, julung wangi dan sebagainya. Anak-anak yang mempunyai sukerta ini diruwat oleh dalang sejati agar terbebas dari incaran Bathara Kala. Yang dimaksud ruwat di Candi Sukuh jelaskah berbeda dengan ruwatan anak-anak Sukerta tersebut di atas, tetapi ruwatan yang melingkupi sebuah masyarakat dan berbagai permasalahan yang melilit kehidupan mereka.

Namun disini perlu kita cermati keberadaan Candi Sukuh ini yang merupakan tempat peribadahan yang suci yang menjadi saksi atas ketaatan sebuah generasi dan keutuhan sebuah masa yang begitu mengagungkan nilai-nilai kebudayaan dan peribadahan menjadi satu dalam wujud karya yang tiada ternilai harganya, maka picik bagi kita sebagai generasi pewaris bila tak ada niatan dari kita untuk tidak turut berbagi dalam upaya pelestarian nilai-nilai dan kandungan yang tersimpan didalamnya.



Yang lama kita pahami, yang kini kita mengerti, kedepan kita capai

Ngenutaken wasana badhe

ing emuta tyang jawi mangke

nrenyuh kawruh pepundene

oncat saking lingsem pratiwine

Friday, April 04, 2008

perjalanan awal tahun

Awal tahun 2008 yang lalu, kulangkahkan kaki untuk sekedar refresing dan sedikit bernostalgia mengenang jaman muda dulu (hehehe... sok tua kalee)

perjalanan kali ini dilakukan bersama sahabatku dan keluarganya, dan akupun demikian.
pada waktu itu, negeri ini sedang dilanda bencana dan musibah banjir dan tanah longsor di banyak kota, sehingga setidaknya menghalangi niat kami untuk melakukan tour 4 profinsi di pulau jawa, meski hanya beberapa tempat saja. tapi karena situasi yang tidak memungkinkan rencana tersebut jadi tertunda.

kami akhirnya merencanakan untuk pergi ke kota solo (surakarta) jawa tengah, tempat aku menghabiskan waktu remaja ku. aku besardan dewasa di kota karesidenan tersebut, meski aku dulu tidak menetap di satu kota, alias berpindah pindah, karena dahulu aku ikut kelaurga paman ku,dan sebelumnya ikut kakek dari ibuku, meski aku juga sempat merasakan hidup di kost. semua pernah aku rasakan. hehehe....

kok malah ngelantur ya...???
hehehe....

dari bandung kami berangkat sekitar jam 3 sore menuju kota solo, mengendari kendaraaan roda 4 yang dulu sempat terkenal dengan slogan "nyaris tak terdengar" dan terkenal keiritannya (44 ribu jakarta - bali) tau kan...???
pokoknya itu lah.

sampai di solo sekitar jam 6 pagi, cukup lambat juga perjalanan kami karena saat di perjanana mobil kami kemudikan dengan tidak terlalu kencang mengingat keadaan cuaca yang tidak mendukung, karena sejak meninggalkan kota bandung tercinta ini hujan terus mengguyur, kalo tidak salah, hujan baru berhenti setelah memasuki kota purworejo jawa tengah.

sampai di kota solo kami menuju rumah kerabat sahabatku, untuk sekedar melepas lelah dan membersihkan diri. baru kemudian sekitar jam 10 pagi kami pergi ke arah gunung lawu. pada awalnya kami ingin ke air terjun tawangmangu atau telaga sarangan yang berada lebih diatasnya via Kab.karanganyar solo, tapi berhubung jalan menuju daerah tersebut sedanh dilanda Longsor dan rombongan Presiden SBY juga sedang meninjau daerah tersebut, maka kami putuskan untuk sedikit membelokan arah menuju kawasan candi sukuh, candi yang terkenal sebutan candi porno dikalangan anak muda.

sebutan tersebut tidak sebenarnya salah, karena memang di candi tersebut banyak relief dan patung yang menggambarkan organ vital laki laki dan perempuan.
itu menandakan bahwa nenek moyang kita sejak dulu memang sudah mengenal ilmu biologi.

hanya mengenai cerita selengkapnya saya kurang mengetahui, karena kami di sana tidak menemukan wahana untuk sedikt menjelaskan pada kami para wisatawan, mengenai apa dan bagai mana sebenarnya candi tersebut pada jaman dulu di gunakan. sebetulnya banyak pertanyaan yang menganga lebar di hati dan kepala kami.
mungkin itu salah satu kekurangan di kawasan tersebut. kami hanya menemui sebuah papan dinding yang berikikan foto2 mengenai kawasan tersebut. itupun berbahasa ingris dan tulisanya pun sudah tak jelas karena kusam dimakan waktu oleh dinginnya suhu di sana dan juga teriknya sinar matahari.
sebenarnya untuk aku pribadi tidak ada kesulitan untuk mebaca dalam bahasa inggris, tapi karena tulisannya kecil dan tidak jelas, maka rasanya males untuk bersusah susah membacanya, karena sudah terlalu ingin untuk melihat situs candi tersebut.

kawasan candi tersebut cukup bersih dan rapi. itu kesan pertama yang tampak ketika memasuki kawasan candi sukuh tersebut. berikut tampak pada gambar bangunan candi utama di kawasan candi sukuh.



tidak begitu besar. tapi cantik dan menarik sekaligus penuh misteri menurut saya. karena bentuknya mengingatkan saya pada bentuk piramid yang terpotong di atasnya, yang biasanya di lambangkan di berbagai film asing sebagai tempat "persembahan" dan juga mengingatkan pada lambang yang ada di mata uang dollar pecahan one dollar yang sepertinya cukup kontroversial di cerita dan film "Davinci Code" karangan Dan Brown, yang di filmnya di perankan oleh Nicholas Cage. mungkin sudah pernah anda baca atau tonton filmnya.

secara umum tidak terlihat "ke-porno-annya", tapi bila kita lihat lebih ditail di kiri kanannya banyak patung dan relief yang menggambarkan hal tersebut.

dari rasa penasaran tersebut, akhirnya pada suatu kesempatan, saya coba untuk mencari tahu sedikit mengenai candi sukuh. mungkin di lain kesempatan saya posting disini.

dari pada saya habiskan kata menceritakan mengenai candi sukuh tersebut di bawah ini akan saya coba tampilkan foto foto yang saya abadikan ketika kami berada di sana, siapa tahu suatu saat kalian tertarik untuk melihat ke-exotic-annya.